Dewan Perwakilan Rakyat kembali menjadi sorotan publik setelah percepatan pembahasan Rancangan Undang-Undang Penyesuaian Pidana berlangsung dalam tempo yang dianggap tidak biasa. RUU ini dinilai strategis karena berkaitan langsung dengan harmonisasi aturan pidana yang tersebar di berbagai undang-undang sektor ke dalam sistem hukum pidana nasional. Meski urgensinya diakui, langkah cepat DPR memicu pertanyaan mengenai motif politik, tekanan waktu, hingga kepentingan yang lebih kompleks di baliknya.
Percepatan Pembahasan dan Alasan Resmi
Percepatan pembahasan RUU Penyesuaian Pidana secara resmi didorong oleh kebutuhan penyelarasan aturan setelah disahkannya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) nasional yang baru. Banyak undang-undang sektoral masih menggunakan ketentuan pidana lama, sehingga terjadi tumpang tindih yang berpotensi menghambat proses penegakan hukum. DPR menyampaikan bahwa harmonisasi perlu dilakukan sesegera mungkin demi mencegah kekosongan hukum dan memastikan sistem peradilan berjalan efisien.
Para anggota legislatif juga menekankan bahwa percepatan ini telah masuk dalam program prioritas nasional. Pemerintah meminta penyelesaian secepatnya agar aturan turunan dari KUHP baru dapat segera diterapkan secara serentak. Dalam kacamata administratif, langkah cepat ini disebut sebagai bentuk sinkronisasi agar tidak terjadi multitafsir dalam implementasi aturan pidana.
Kepentingan Politik dan Faktor Pemilu
Meski alasan teknis menjadi dasar resmi, beberapa analis menilai percepatan RUU ini tidak lepas dari dinamika politik, terlebih menjelang periode pergantian kekuasaan dan konsolidasi pasca pemilu. Pengesahan undang-undang yang berkaitan dengan pidana kerap melibatkan kepentingan berbagai kelompok politik maupun ekonomi. RUU Penyesuaian Pidana dianggap memiliki ruang untuk mempengaruhi sektor bisnis, korporasi, hingga mekanisme pengawasan terhadap pejabat publik.
Dalam situasi pascapemilu, partai-partai di parlemen sering mencoba mengamankan posisi politiknya melalui kebijakan yang dapat memberi mereka keuntungan strategis. Salah satunya adalah memberikan kepastian hukum yang sesuai dengan arah politik koalisi. Tidak sedikit pula pengamat yang menilai bahwa percepatan pembahasan RUU ini berkaitan dengan kebutuhan pemerintah untuk memastikan stabilitas hukum sebelum pemerintahan baru bekerja penuh.
Tantangan Transparansi dan Minimnya Partisipasi Publik
Salah satu kritik terbesar terhadap percepatan pembahasan ini adalah minimnya ruang partisipasi publik. Sejumlah organisasi masyarakat sipil berpendapat bahwa proses pembahasannya berlangsung terlalu cepat sehingga mengurangi kesempatan bagi publik untuk memahami pasal-pasal yang memiliki dampak besar. Tidak sedikit yang khawatir bahwa percepatan ini justru membuka peluang masuknya pasal-pasal problematik yang lolos tanpa pengawasan ketat.
Dalam konteks tata kelola pemerintahan yang baik, ruang partisipasi publik merupakan bagian penting untuk memastikan akuntabilitas proses legislasi. Ketika pembahasan dilakukan dalam waktu singkat, ada kekhawatiran bahwa kepentingan publik tidak mendapatkan tempat yang proporsional. Beberapa kelompok masyarakat bahkan mendesak agar DPR memperpanjang waktu pembahasan demi transparansi.
Dampak dan Implikasi jika RUU Segera Disahkan
Jika RUU Penyesuaian Pidana benar-benar disahkan dalam waktu dekat, maka sistem hukum pidana nasional akan mengalami transisi besar. Berbagai undang-undang sektoral seperti terkait lingkungan hidup, keuangan, kesehatan, dan teknologi harus menyesuaikan ketentuan pidana baru. Hal ini tentu berdampak pada aparat penegak hukum yang harus beradaptasi dengan aturan yang telah diperbarui.
Di sisi lain, korporasi dan lembaga publik perlu memahami perubahan tersebut untuk menghindari potensi pelanggaran. Harmonisasi aturan akan membawa kepastian hukum, namun proses adaptasinya dapat menimbulkan tantangan baru jika tidak disosialisasikan dengan baik. Karena itu, sejumlah pakar hukum menilai percepatan ini harus disertai dengan kesiapan regulasi turunan dan edukasi publik.







